Faktor Pendukung Terbentuknya Radikalisme dan Terorisme di Indonesia



Sumber Gambar: https://www.liputan6.com/


Ditulis: Fatkhuri


Sejak reformasi bergulir, Indonesia mengalami transisi demokrasi setelah selama 32 tahun di bawah rezim otoriter Soeharto. Demokrasi membuka peluang bagi lahirnya berbagai macam organisasi baik politik, ekonomi maupun agama sebagai manifestasi kebebasan berekspresi. Tak pelak, periode transisi ini juga membuka ruang bagi menjamurnya organisasi keagamaan dengan beragam karakternya. Munculnya berbagai macam organisasi islam militan seperti Front Pembela Islam (FPI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majlis Mujahiddin Indonesia (MMI) dan Jamaah Islamiyah (JI) untuk menyebut beberapa nama merupakan konsekwensi logis bagi kebebasan yang ada. Namun demikian, keberadaan organisasi ini dinilai membahayakan sebab tidak jarang dalam aktifitasnya selalu menebarkan kebencian, teror dan aksi kekerasan. Lebih tragis lagi organsiasi yang disebut terakhir (JI) merupakan institusi yang disinyalir bertannggung jawab atas marakanya aksi pengeboman yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia selama ini. Realitas ini semakin menegaskan bahwa radikalisme dan terorisme mengancam semangat toleransi beragama yang menjadi ciri khas Islam Indonesia. Apa saja faktor pendukung radikalisme dan terorisme tersebut? Studi ini menguraikan bahwa radikalisme dan terorisme tumbuh karena dua faktor fundamental yakni deprivasi ekonomi dan ketidakadilan politik. Dalam konteks ekonomi, studi ini menjelaskan bahwa kemiskinan mendorong radikalisme dan terorisme karena rasa frustasi berkepanjangan serta kesenjangan ekonomi masyarakat yang diakibatkan oleh kebijakan diskriminatif pemerintah. Dalam konteks politik, radikalisme dan terorisme muncul sebagai bentuk protes kelompok islam militan dengan sistem politik sekuler (demokrasi). Pelaksanaan demokrasi memicu kelompok islam militan berupaya untuk mengganti sistem politik yang ada dengan syariat islam. Kelompok ini mengklaim bahwa Indonesia dengan mayoritas penduduk muslim di dunia harus melaksanakan sistem politik Islam (Khilafah). Disisi lain, demokrasi dinilai tidak bisa memecahkan berbagai persoalan seperti kemiskinan yang tetap 1 merajalela, moral masyarakat semakin tidak tertata dan sebagaianya. Kedua, radikalisme dan terorisme tumbuh dikarenakan oleh ketidakadilan global. Kebijakan (standar ganda) luar negeri AS terhadap Negara-negara Islam (timur tengah) menimbulkan reaksi keras dari kelompok Islam militan Indonesia terhadap Negara-negara barat (USA).Reaksi inilah yang pada gilirannya memicu kelompok islam militan melakukan aksi kekerasan dan ancaman teror sebagai bentuk perlawanan mereka. 

Selanjutnya artikel bisa diunduh

Kata Kunci: radikalisme, terorisme, ekonomi, politik, Islam, Indonesia



Comments

  1. Masa si karena kemiskinan? Bahkan mereka yang kaya justru mendanai proyek terorisme ini.
    Saya rasa terorisme itu lebih ke paham saja. Yang jadi pelaku, pengantin² mereka adalah yang putus asa dan tak punya pemahaman yang baik dan luas tentang agama yang dianut.
    Saya rasa bukan soal kemiskinan sj, memang mentalitas sj yg krg matang memahami ssuatu.

    ReplyDelete
  2. Jika merujuk ke banyak literatur dan hasil riset, tidak ada faktor tunggal. Kemiskinan adalah salah satunya, di luar soal ideologi dll.

    ReplyDelete

Post a Comment