Suka Duka Pengalaman Menyusun Skripsi

 


 

Sumber Gambar: https://fisip.upnvj.ac.id/

Ditulis : Annisa Suryamadani

Mahasiswa Prodi Ilmu Politik/FISIP UPN Veteran Jakarta

 

Persiapan Menyusun Skripsi

Melalui tulisan ini, saya akan berbagi pengalaman bagaimana menyusun skripsi. Skripsi adalah sebuah karya tulis ilmiah membahas suatu permasalahan/fenomena dalam bidang ilmu tertentu yang disusun secara terstruktur dan sistematis berdasarkan sebuah pedoman yang sudah ditentukan oleh masing-masing kampus. Skripsi ditulis dalam rangka untuk memenuhi salah satu persyaratan mencapai gelar Sarjana. Proses mengerjakan skripsi bisa dibilang cukup sulit dan memakan waktu yang panjang. Oleh sebab itu, untuk menulis skripsi membutuhkan persiapan yang cukup matang, di antaranya sebagai berikut:

 

Pertama, mencari inspirasi ide penelitian. Ini artinya kita perlu menemukan sebuah permasalahan yang dirasa perlu untuk dibahas, bisa dimulai dengan cara bertanya kepada diri kita sendiri, apa topik yang kita sukai dan fahami? atau apakah penelitian yang nanti dilakukan output-nya banyak memberikan manfaat bagi masyarakat luas? Jika kita melakukan penelitian berdasarkan apa yang kita sukai dan fahami, maka sebanyak apapun tantangan dan hambatan yang nanti kita hadapi, kita akan menikmati prosesnya sedangkan jika motivasi untuk melakukan penelitian adalah memberikan dampak yang signifikan untuk masyarakat luas maka kita akan selalu termotivasi untuk memberikan yang terbaik. Intinya jangan pernah memilih topik yang kita merasa sulit untuk melakukannya.

 

Kedua, membaca buku, jurnal, artikel ilmiah, dan berita. Bacalah topik/isu yang berkaitan dengan rencana penelitian kita, serta diskusi dengan civitas akademika karena akan banyak insight yang bisa membuka pikiran kita bahwa ada banyak kemungkinan fokus penelitian dari sebuah topik yang diangkat.

 

Ketiga, menuliskan sebanyak mungkin hasil, kontribusi, dan gap dari penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan. Yang saya lakukan adalah pertama mencoba menuliskan 15 (lima belas) penelitian terdahulu dalam bentuk tabel. Fungsinya membantu saya merumuskan hipotesis atau tolak ukur untuk menulis dan menganalisis penelitian. Kemudian baru bisa menentukan metode penelitian yang akan digunakan seperti kualitatif, kuantitatif, atau campuran dan jenis penelitian berdasarkan tujuannya seperti explorative, descriptive, explanatory, experimental, dan action. Ada pun topik penelitian yang saya pilih adalah “Peran Aktor dan Relasi Kuasa dalam Formulasi Kebijakan Jakarta Smart City”. Alasan saya memilih topik ini karena saya memiliki minat membahas masalah-masalah perkotaan, kebijakan publik, dan smart city. Objek penelitian di Jakarta karena ibu kota dengan tingkat urbanisasi tertinggi kedua setelah Malaysia sebesar 54,7% di Asia Tenggara (Pusparisa, 2019) dan urutan kedua sebagai urban agglomerations in Asia by population setelah Tokyo (demographia.com, 2019). Implikasinya, kota dengan pertambahan jumlah penduduk akan menanggung masalah yang lebih kompleks sedangkan sumberdaya alam dan energi semakin terbatas.

 

Keempat, konsultasi dengan dosen. Sebelum saya memutuskan untuk memilih topik tersebut, dan sebelum mendapatkan dosen pembimbing, saya bertanya kepada beberapa dosen yang ahli dalam bidang penelitian yang saya pilih, yaitu Ibu Sri Lestari Wahyuningroem, P.hD selaku dosen pengampu mata kuliah masalah-masalah perkotaan, Pak Fatkhuri, S.IP., MA, M.PP selaku dosen pengampu mata kuliah kebijakan publik, Mba Jamalianuri selaku peneliti di katadata.co.id yang memiliki background lulusan politik perkotaan, dan Mas M. Prakoso Aji, S.Sos., M.IP selaku dosen pengampu mata kuliah e-government. Tujuannya untuk mendapatkan saran dari ahlinya mengenai bagaimana penelitian yang baik dan tidak bias.

 

Kelima, menyusun proposal. Setelah topik kita temukan, selanjutnya menyusun proposal skripsi.  Tantangan dalam menyusun proposal adalah menguraikan latar belakang yang mendasari munculnya permasalahan sehingga menjadi perhatian peneliti. Latarbelakang perlu menggambarkan sejauh mana urgensi penelitian, landasan ilimiahnya, dan alur berpikir yang sistematis dalam mengkaji persoalan yang terlihat dalam penulisan yang ditulis dengan topic sentence, penjelasan, dan evidences.

 

Aspek lain yang paling sulit dalam menyusun proposal skripsi berdasarkan pengalaman saya adalah menyusun pertanyaan penelitian untuk mempersempit lingkup penelitian agar memiliki sebuah jawaban yang sangat memungkinkan untuk dijawab dengan data pendukung dalam waktu 3 (tiga) bulan penelitian turun lapangan sedangkan teori sebagai pisau analisis untuk membantu peneliti melihat hubungan antara fakta dan data dalam menjelaskan suatu fenomena.

 

Selanjutnya kesalahan pertama yang bisa berdampak pada tahap penyelesaian proposal skripsi adalah minimnya pemahaman awal tentang teori yang akan digunakan karena teori akan sangat membantu peneliti dalam merumuskan pertanyaan wawancara bahkan mendapatkan jawaban untuk pertanyaan penelitian. Sehingga peneliti dituntut bukan hanya memahami apa yang ia tulis tetapi juga harus mengetahui kegunaaan dari setiap statement yang ditulis, salah satunya teori.

 

Untuk mengatasi berbagai hambatan/kesulitan yang dihadapi, dalam tahap menyusun proposal skripsi, saya selalu berdiskusi dengan dosen pembimbing. Saya juga mengatur manajemen waktu dan tingkat stres dalam mengerjakan proposal skripsi dengan cara berbincang dengan teman-teman atau istirahat sejenak, because doing your best does not mean pushing yourself to the point of mental breakdown. Tujuannya agar bisa berpikir jernih saat melanjutkan menyusun proposal skripsi.

 

Kendala Penelitian dan Solusinya

Sebelum melaksanakan penelitian, kita perlu persiapan yang matang. Terkait persiapan penelitian, ada beberapa hal yang saya lakukan.

Pertama, konsultasi daftar pertanyaan wawancara, narasumber cadangan apabila yang utama tidak bisa, dan variabel teori dengan dosen pembimbing agar memudahkan saya mendapatkan jawaban yang sesuai saat wawancara dengan narasumber.

Kedua, membuat ringkasan proposal dan surat izin penelitian untuk memudahkan narasumber memahami maksud dan tujuan untuk wawancara.

Ketiga, memberikan surat izin penelitian ke instansi terkait dengan menjelaskan alasan mengapa memilih narasumber tersebut dan jangan lupa minta contact person untuk bertanya lebih lanjut seputar administrasi.

Keempat, follow up surat setelah 3 (tiga) hari.

Kelima, sembari menunggu jawaban, pelajari kembali proposal, variabel teori, dan daftar pertanyaan wawancara, latihan berbicara didepan kaca, dan menuliskan point-point penting dikertas selembar sebagai guide saat melakukan wawancara agar pembahasan tidak melebar.

Keenam, membuat list dokumen tambahan untuk data pendukung skripsi yang diajukan setelah selesai wawancara. Bisa juga diajukan saat memberikan surat izin penelitian ke instansi.

 

Berdasarkan pengalaman penelitian, saya menghadapi beberapa kendala dalam pengumpulan data. Adapun beberapa kendala tersebut, yaitu tidak semua narasumber bisa ditemui secara langsung. Solusinya untuk wawancara mendalam dilakukan secara daring. Alternatif solusi juga diberikan oleh Pemprov DKI Jakarta, yaitu membuat kuesioner yang kemudian disebarluaskan di internal Pemprov DKI Jakarta mengingat kondisi DKI Jakarta menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Namun dampaknya, jawaban yang diberikan dalam kuesioner bersifat normatif.

Selanjutnya, saya juga mengalami kendala dalam mendapatkan dokumen pendukung yang saya ajukan ke Jakarta Smart City (JSC) karena dokumen yang diterima tidak sesuai dengan kesepakatan diawal saat wawancara dengan narasumber, yaitu dokumen Memorandum of Understanding (MoU) pihak JSC dengan pihak swasta. Akhirnya, saya menghubungi kembali pihak JSC dan kemudian diberikan penjelasan singkat melalui e-mail mengenai bentuk kerjasamanya saja.

 

Untuk mengatasi kendala seperti saat wawancara dan mendistribusikan kuesioner, saya memanfaatkan dokumen-dokumen, jurnal nasional dan internasional, Power Point (PPT), YouTube, website, Mp3 Smart City Through Southeast Asia dan berita yang dikeluarkan resmi oleh Pemprov DKI, BAPPEDA, JSC, RCUS, lembaga penelitian, dan universitas.

 

Dalam Menyusun laporan penelitian, saya menghadapi masalah dalam menyusun laporan, terutama terkait sistematika dalam menyajikan data yang runtut merujuk pada pertanyaan penelitian, analisa yang merujuk pada teori yang digunakan, dan parafrasa yang pada akhirnya membuat saya menggunakan banyak kutipan.

 

Sidang Skripsi

Adapun untuk sidang skripsi, hal-hal yang perlu disiapkan adalah:

 

Pertama, kesiapan mental, pastikan tidur yang cukup, makan yang bergizi, minum air putih yang banyak, dan olahraga agar tetap dalam keadaan sehat setelah belajar terlalu keras.

Kedua, tulis di atas kertas apa saja ketakutan yang dikhawatirkan terjadi saat sidang skripsi dan singkirkan, tujuannya untuk meminimalisir rasa cemas.

Ketiga, baca dan pahami hasil penelitian, jika ada pembahasan yang kurang dimengerti bertanya pada dosen pembimbing jangan menunggu feedback setelah sidang skripsi untuk mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak bisa dijawab.

 

Keempat, buat PPT yang ringkas dan jelas, kemudian lakukan simulasi sidang skripsi, minta tolong sama keluarga, misalnya kakak untuk menjadi dosen penguji, rekam, dan evaluasi. Tujuannya agar sikap, intonasi, gaya bicara, dan substansi yang dipaparkan tersampaikan dengan baik.

 

Kelima, kenakan pakaian yang rapi, sopan, dan nyaman.

 

Keenam, siapkan perlengkapan teknis pendukung presentasi. Jangan lupa isi kuota untuk jaga-jaga jika koneksi wifi saat sidang skripsi hilang.

 

Ketujuh, jangan lupa sarapan agar saat sidang skripsi bisa fokus dan usahakan standby paling lambat 15 menit sebelum sidang skripsi dimulai.

 

Kedelapan, berdoa dan minta restu orang tua. Setelah pemaparan sidang skripsi, siapkan pulpen dan buku untuk mencatat semua pertanyaan dan saran perbaikan dari dosen penguji serta jawab setiap pertanyaan dengan argumentasi yang ilmiah. Jangan lupa ucapkan kata terima kasih, maaf, dan minta tolong sesuai dengan konteks yang disampaikan oleh dosen.

 

Ringkasan Hasil Penelitian

Hasil penelitian saya dengan judul “Peran Aktor Dan Relasi Kuasa Dalam Formulasi Kebijakan Jakarta Smart City” secara singkat dapat diuraikan bahwa Pemprov DKI Jakarta memiliki peran sentral sebagai fasilitator, koordinator, entrepreneur, dan stimulator untuk pengembangan JSC yang diwujudkan dalam bentuk rencana kerja pemerintahan daerah dan dijabarkan dalam bentuk pendapatan, belanja, dan pembiayaan daerah, yang dikelola dalam sistem pengelolaan keuangan daerah. Adapun aktor-aktor yang terlibat dalam perumusan kebijakan JSC, yaitu Gubernur DKI Jakarta, TGUPP, Prof. Dr. Eko Prasojo, BPKD Biro ORB, Biro Hukum, Kemendagri, inspektorat, swasta, media massa, BAPPEDA, DPRD, DISKOMINFOTIK, LSM peduli lingkungan, dan Akademisi.

Pola hubungan antar-aktor yang terlibat dalam perumusan kebijakan JSC bersifat kooperatif. Koordinasi yang dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta bersifat hirarkis yang dimana Pemprov DKI berperan memberikan arahan kepada SKPD/UKPD dibawah wewenang dan tanggungjawabnya dalam formulasi kebijakan JSC. Sedangkan non-pemerintah bersifat konsultatif karena peran aktor dalam formulasi kebijakan JSC sebatas memberikan ide/gagasan dan saran. Strategi yang digunakan aktor-aktor dalam formulasi kebijakan JSC, yaitu melakukan identifikasi masalah terkait dengan kebutuhan membangun JSC, survey tentang kebutuhan layanan-layanan kota cerdas, dan menetapkan solusi pembuatan program dalam mengisi aktivitas kota cerdas dan berkualitas.

Dinamika dalam penyusunan program pengembangan JSC setelah adanya perubahan kebijakan JSC terlihat saat perumusan masterplan Smart Safe City DKI Jakarta yang dimana PwC mengarahkan pengembangan JSC berupa penambahan cctv dalam melakukan pengawasan. Selain itu, Pemprov DKI Jakarta dalam APBD 2021 melakukan penganggaran pengembangan dan pengelolaan ekosistem provinsi cerdas dan kota cerdas dengan pengadaan software. Implikasinya, perumusan JSC belum sepenuhnya merespon tuntutan yang muncul dengan melibatkan masyarakat setempat dalam menentukan arah kebijakan melainkan masih seputar pengembangan aplikasi, cctv, dan control room.

 

Itulah cerita singkat tentang pengalaman saya menyusun Skripsi. Pelajaran yang diperoleh dalam menyusun skripsi bagi saya adalah:

Pertama, bisa meningkatkan kecerdasan  intelektual dan kecerdasan emosional. Saya belajar banyak bagaimana caranya berargumen berlandaskan data, fakta, dan referensi agar apa yang disampaikan valid. Saya juga banyak belajar tentang bagaimana mengasah nalar kritis secara perlahan karena berusaha untuk mengetahui akar permasalahan dari fenomena yang terjadi yang dibuktikan dengan hasil penelitian dan analisa ilmiah.

Kedua, lebih cepat tanggap jika menghadapi kebuntuan atau kendala dalam penelitian sehingga terpacu untuk memecahkan masalah dalam waktu yang singkat.

Ketiga, membiasakan diri untuk melihat isu/permasalahan dari sudut pandang objektif dan tidak mudah percaya dengan berita atau informasi yang belum jelas kebenarannya.

Keempat, lebih mengenal diri sendiri, misalnya ketika sedang tidak ingin mengerjakan penelitian artinya ada sinyal yang memberitahu bahwa sedang kehilangan motivasi dan perlu meluangkan waktu untuk mengembalikan energi tersebut.

Kelima, berpikiran terbuka karena terbiasa mendengarkan kritik yang membangun agar menjadi lebih baik lagi.

Keenam, lebih memiliki sikap sabar. Terkadang apa yang terjadi tidak sesuai dengan yang direncanakan dan bahwa setiap orang punya timing masing-masing untuk mendapat gelar sarjana. Sebagaimana nasihat Umar Bin Khattab: “Apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku”, sehingga menjadi lebih bersyrukur pada setiap proses yang telah dilalui. Pentingnya manajemen waktu, mengelola stres, dan menjaga kesehatan because being busy is about working harder while being productive is about working or being smarter about the way you tackle the things you need or want to achieve.

Sekian dan Terimakasih


Baca juga:

Sistem Zonasi: Mewujudkan Keadilan dan Pluralisme Pendidikan

 


Comments