Belajar Alqur’an Melalui MTQ


 

Ditulis: Fatkhuri 

Hari Sabtu pagi, tanggal 28 Agustus 2021 saya diminta mendampingi putriku yang akan tampil membacakan ayat-ayat suci Alqur’an dalam kegiatan Webinar para Guru yang diselenggarakan SD Islam Terpadu (SDIT) Nurul Hidayah, Pondok Petir Kecamatan Bojongsari Kota Depok. Hari ini barangkali cukup membahagiakan bagi anak perempuan satu-satunya ini. Tidak lama setelah tiba di rumah pasca melaksanakan tugas membaca Alqur'an di sekolah, dia mendapatkan kabar dari Gurunya bahwa anak perempuanku memperoleh Juara I dalam Lomba Semarak Muharram 1443 H yang diselenggarakan sekolah beberapa saat lalu. Sore harinya, berita bahagia juga ia terima setelah mendapatkan informasi dari salah satu Guru di sekolahnya, bahwa Tisya (begitu kami memanggilnya) memperoleh Juara I untuk ajang lomba Depok Scout Siaga Kota Depok untuk kategori lomba MTQ yang diselenggarakan Pramuka Kwartir Cabang Kota Depok Tahun 2021. Sebuah pencapaian yang patut disyukuri, semoga prestasi tersebut bisa terus dipertahankan dan tidak berhenti untuk belajar. 


Tisya, anak kedua saya saat ini sudah menginjak 8 tahun dan sudah masuk kelas 3 di SD tersebut. Meskipun tergolong junior di sekolahnya, namun sejak kelas 1 putriku sudah cukup sering mengikuti atau tampil dalam berbagai event untuk membacakan ayat suci Alqur’an (tilawah) dalam lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) atau event non lomba. Bagi saya sebagai orang tua, tawaran untuk tampil ini merupakan kesempatan terbaik untuk mengasah kemampuan anak dan menempa mental dia agar memiliki kepercayaan diri yang baik. Apalagi putriku acapkali terganggu mood nya (naik turun) sehingga kesempatan tampil ini juga menjadi bagian dari upaya membiasakan diri untuk mengelola emosinya secara terarah. Kalau pun hasil tampil tersebut membuahkan hasil menjadi juara misalnya, itu hanya sebagai bonus saja. Karena poin pentingnya adalah pada pembiasaan diri mengelola emosi, membentuk karakter berani, sabar, dan kerja keras melalui instrumen kompetisi sebagai ruang pembentukan karakter anak.

 

Seni membaca Alquran tentu saja memiliki banyak keragaman. Untuk putriku, saya perkenalkan aspek yang bersifat dasar saja karena saya sendiri memang tidak begitu menguasai ilmu ini secara mumpuni. Seni membaca Alqur’an (An-Naghom fil Quran) di Indonesia bukan sesuatu yang asing di telinga masyarakat kita. Di Indonesia seni membaca Alqur’an yang seringkali dilombakan disebut qiro’ah atau tilawah yang artinya membaca. Sebagaimana ditegaskan dalam Surat Alankabut:45, tilawah adalah utlu ma uhiya ilaka yang berarti ‘bacalah apa yang wahyukan oleh Tuhanmu kepadamu’. Baik qiro’ah maupun tilawah keduanya mengandung pengertian sebuah ajakan untuk membaca Alquran dengan benar berdasarkan kepada kaidah ilmu tajwid, memahami isi kandungannya baik yang tersurat maupun tersirat dan juga mengamalkan isinya.

 

Qiro’ah/tilawah di Indonesia cukup popular. Hal ini sangat wajar sebab populasi masyarakat Indonesia paling besar adalah Muslim. Di sisi lain, seni tilawah Alqur’an ini kerapkali diperlombakan dalam berbagai event di tanah air baik pada level institusi pendidikan dari jenjang dasar sampai perguruan tinggi, pesantren, termasuk pemerintah sendiri juga sering menyelenggarakan lomba MTQ. Memperkenalkan seni membaca Alqur’an sejak dini tentunya juga menjadi modal bagus untuk membekali anak agar lebih dekat mengenal dengan Alqur’an, syukur-syukur bisa memahami kandungannya sejak usia belia sehingga akan memudahkan mereka mempedomani dan mengamalkannya dalam lingkungan sehari-hari.

 

Tentang tampilnya putriku ini, acapkali kami mendapatkan pertanyaan dari orang tua siswa, tetangga dan sebagainya. Pertanyaan yang muncul adalah dari mana atau kepada siapa putriku belajar? Apakah putriku ini belajar di pesantren? Untuk menjawab hal tersebut, tentu saja kadang agak bingung menyiapkan jawabannya. Kalau mau jujur, putriku ini sebelumnya dan sampai sekarang masih belajar qiro bersama saya. Meskipun di sekolahnya pernah mengikuti pembelajaran tilawah, namun hal tersebut tidak berlangsung lama karena keburu datang Pandemi COVID-19, dan pembelajaran tersebut tidak berlanjut.


                  Batrisya Qairina Fatkhuri 

Saya sendiri tentu saja bukan qori profesional, namun ketika masih tinggal di kampung dulu, disamping belajar Alqur’an kepada Kyai/Ustadz kampung, untuk seni membaca Alqur’an saya banyak belajar kepada teman yang lebih senior, dan selebihnya belajar secara otodidak. Sejak kecil saya memang sudah ditanamkan pembiasaan tampil di berbagai event di kampung. Di kampung saya saat itu memang kehidupannya cukup relijius. Di luar agenda sekolah dan bermain, masa kecil banyak menghabiskan waktu untuk mengaji. Saya sendiri mengikuti lomba MTQ baru setelah menempuh studi jenjang menengah, tidak lagi di kampung halaman. Saat masih tinggal di kampung saya hanya tampil dalam acara PHBI (isra mi’raj dll) dan acara-acara hajatan di kampung yang beberapa diantaranya menyelenggarakan Pengajian Umum dengan mengundang kya-kyai dari luar kota. Di event inilah saya memberanikan untuk tampil membaca Alqur'an dengan nada yang cukup bervariasi.


Pada saat duduk di sekolah menengah kemampuan qiro saya mulai berkembang. Di sini saya belajar qiro kepada ustadz Abdul Mu’in. Sejak di sekolah ini pula saya beberapa kali memiliki kesempatan untuk mengikuti perlombaan MTQ yang diselenggarakan oleh OSIS MAN Babakan Lebaksiu Tegal, Jawa Tengah ( almamater saya sekarang berganti nama menjadi MAN 1 Tegal). Saat itu, saya juga pernah menjadi salah satu nominasi untuk mengikuti perlombaan MTQ Tingkat Jawa Tengah mewakili MAN 1 Tegal tahun 1996.  

Selain mengikuti lomba MTQ di sekolah, saya beberapa kali berpartisipasi dalam ajang perlombaan MTQ yang diselenggarakan Pesantren Ma’hadutholabah, Babakan Lebakisu Tegal.  Yang menarik dalam keikutsertaan saya dalam MTQ baik di sekolah maupun di pesantren, saya tidak pernah memperoleh juara I dan capaian saya hampir selalu mentok di peringkat II. Ini terjadi bahkan ketika saya lanjut studi dan belajar di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Jombang Jawa Timur ketika mahasiswa.

 

Baik saat di Pesantren Ma’hadutholabah Tegal maupun di Darul ‘Ulum Jombang, sang juara I adalah ustadz-ustadz yang memang sudah malang melintang dalam ajang lomba MTQ, dan beliau-beliau merupakan tokoh di dua pesantren tersebut. Meskipun hanya memperoleh peringkat II, bagi saya itu capaian yang cukup monumental sebab pengalaman yang saya dapatkan sebelumnya adalah pengalaman orang kampung yang jarang sekali mengikuti lomba.

 

Berkah pernah juara II baik saat masih belajar di MAN maupun ketika melanjutkan studi S1, saya sangat sering diundang oleh warga sekitar bahkan sampai beda kecamatan untuk mengisi acara pembacaan ayat suci Alqur'an di sebuah hajatan dan pengajian-pengajian umum yang diselenggarakan oleh masyarakat, yayasan atau institusi tertentu. Sebagai seorang siswa dan lanjut saat mahasiswa saat itu, kesempatan diundang dalam sebuah acara begitu surprise dan mengundang rasa khawatir. Surprise karena diberikan kesempatan tampil di muka umum dengan khalayak lebih luas. Khawatir karena ada rasa kurang percaya diri.

 

Namun, kesempatan memenuhi Undangan tersebut tentu tidak saya sia-siakan. Bagi saya, memenuhi berbagai Undangan dari masyarakat bukan saja saya mendapatkan banyak sekali relasi di luar tempat saya belajar, tetapi semakin mengasah kemampuan saya, dan tentu yang tidak kalah pentingnya adalah seusai mengisi acara tersebut seringkali dibekali amplop dan “berkat” (bingkisan yang berisi makanan) oleh panitia. Bagi siswa dan lanjut saat mahasiswa, kesempatan seperti ini rutin saya peroleh. Mengenai isi amplop setidaknya bisa untuk mengurangi beban orang tua yang memang kondisinya cukup terbatas secara ekonomi. Dengan uang tersebut, saya bisa gunakan untuk membayar uang SPP atau kebutuhan lain.     

 

Kembali ke persoalan dari mana putriku belajar qiro, saya memang dalam dua tahun terakhir ini selalu menyempatkan diri untuk membimbing dan mengajari anak-anak untuk belajar qiro. Pandemi Covid-19 memberikan kesempatan lebih banyak untuk berinteraksi dengan anak-anak di rumah karena menjalankan WFH. Qiro tentu saja sangat bermanfaat bagi anak-anak yang masih dalam masa tumbuh kembang. Bukan saja untuk membekali anak dengan mengenali Alqur’an secara mendalam, tetapi juga mengasah kemampuan anak agar fasih dan tartil dalam membaca Alqur’an. Selebihnya, dengan kemampuan membaca Alqur’an yang baik, hal tersebut bisa menjadi sarana yang cukup efektif untuk mengasah mental/keberanian anak, karena memungkinkan untuk tampil dalam berbagai ajang baik perlombaan maupun acara-acara formal lainnya di sekolah dan lingkungan tempat kita tinggal. Contohnya, selain tampil di ajang lomba, putriku juga punya banyak peluang mengisi acara seperti pengajian ibu-ibu, acara PHBI di lingkungan perumahan, sekolah dan sebagainya.

 

Alhamdulilah, diusianya yang masih belia putriku sudah cukup baik membaca Alqur'an. Selain saat ini sudah 2 kali khatam, dia sering ikut lomba MTQ. Keikutsertaannya lebih banyak karena diminta gurunya. Dalam berbagai lomba yang pernah diikuti, seperti yang diulas dalam awal tulisan ini, capaian putriku selama ini adalah juara I untuk MTQ kategori Putri 2019 (saat itu masih kelas 1); juara I Lomba Festival Muharram 1443 H/2021, dan Juara I Depok Scout Siaga se Kota Depok (dua-duanya baru saja diumumkan hari ini). Sedangkan di tempat lain juga pernah juara 1 di lingkungan RT dan pernah mengikuti ajang lomba MTQ Virtual Internasional untuk kategori anak pada bulan Desember 2020 yang diselenggarakan oleh Yayasan Tahfidz Indonesia. Untuk keikutsertaan lomba ini bisa dilihat di link youtube Tahfidz Media.  Dalam lomba ini, putriku tidak memperoleh juara. 

Di atas semua itu, bagi saya pembiasaan/pembentukan karakter merupakan tujuan utama. Partisipasi dalam kegiatan atau lomba hanyalah sebuah sarana. Oleh karena itu, bagi saya penting untuk anak turut serta dalam berbagai ajang lomba. Jika memperoleh juara itu artinya bonus, namun jika tidak juara ada pembelajaran yang bisa dipetik untuk anak, bahwa untuk meraih cita-cita membutuhkan perjuangan, dan tidak semua usaha kita akan berbuah manis. Iklim kompetisi tentu saja sangat baik untuk pembentukan karakter anak. Semoga anak-anak kita termasuk generasi yang unggul, berakhlakul karimah, dan memiliki mental berani, kerja keras dan jujur. Aamiin

Baca juga:

Belajar Makna Ikhlas Ketika Ditinggal Orang Tua



 



Comments